aku bukanlah Sayyidatina Aisyah
Perempuan
tercipta rapuh dan lemah, aku tak tahu apakah perempuan merupakan produk
kloning dari spesies Adam, tapi beginilah kami….aku. setiap makhluk Allah tercipta unik dan meskipun ada titik lemah,
itulah pembuktian bahwa Tuhanlah yang Maha Sempurna, perumpamaan lain,
perempuan lemah dari sudutpandang satu dan sekaligus kuat dari sudut pandang
lainnya.Terkadang
aku menyangsikan kesungguhanmu. Niat awalmu terpatri pada sosok kacamata yang
laindan itu bukan aku. Aku bukan inginmu, aku bukan bukan harapanmu dan
kekhawatiranku tersungkur lagi nyaris membuatku lemah, kau tahu….aku tak pernah
merasa sekerdil ini.Aku
tahu…, aku tak akan sekuat Aisyah, aku tak melihatmu, menyaksikanmu hidup
bersama perempuan lain, tetapi hatiku masih begitu rapuh meyakinimu, sementara
Aisyah? Kau tahu bagaimana perasaan wanita yang memiliki saudari madu? Bukan berarti
Aisyah tak pernah mengeluh, hidup dalam kasih sayang yang terbagi. Adalah
manusiawi jika Aisyah menangisi senyum Baginda Nabi yang terbagi, cemburu yang
membara hingga kemarahan yang meledak, tapi aku tak setegar Aisyah, yang
melihatmu menyinggung sosok kacamata lain atau sosok putih yang dulu….., yang
nadi lengannya tampak…., itu saja nyaris melumat habis hatiku.Bertemu
denganmu barangkali sebuah kebetulan yang telah ditakdirkan. Aku masih
terseok-seok kala kau datang dan begitu tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku,
memberiku topangan dan sandaran hingga aku dapat berdiri tegak dan memandang ke
depan, genggaman tanganmu telah meracuniku, menjadi candu dan aku tergantung
padamu.Yah…cinta
itu anugerah dan sekalipun perasaan manusia bisa berubah, aku mencoba berani
untuk meyakini bahwa tempatku adalah di dadanya, tepat di jantungnya,
sebagaimana do’anya, semoga cinta ini bukan jalan yang buruk bagiku dan
baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar